![]() |
| Foto: Abraham Samad, Ketua KPK/D.P/seringbuka |
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menurut Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) bersikap tidak adil, diskriminatif, dan tebang pilih dalam pemberantasan korupsi. Misalkan, ujar Neta, Dalam perkara
dugaan gratifikasi di Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), KPK mencegah dua anggota DPR, Sutan Batugana dan Tri Yulianto bepergian ke luar negeri.
“Sebaliknya, dalam kasus korupsi Simulator SIM, sejumlah pihak dibiarkan bebas, termasuk lima anggota DPR yang diduga menerima aliran dana Simulator SIM,” ujarnya via blackberry messenger, Minggu (16/2).
pada persoalan tersebut, kata Neta, IPW menyesalkan cara-cara kerja KPK yang tidak adil ini. Dalam menuntaskan kasus Simulator SIM, Ketua KPK Abraham Samad diharapkan tidak tebang pilih. Sehingga aliran dana ke sejumlah jenderal Polri, ke Primkopol maupun ke sejumlah anggota DPR diusut tuntas.
“KPK tidak bisa begitu saja melupakan kasus Simulator SIM, degan hanya menjerat Irjen Djoko Susilo, mengingat fakta-fakta di persidangan Tipikor sudah terungkap adanya aliran dana ke Itwasum Polri, Primkopol, dan anggota DPR. Tujuannya agar terungkap apakah aliran dana tersebut ada kaitannya dengan penyerbuan dan pengepung terhadap KPK beberapa waktu lalu,” imbuhnya.
Neta pun mengatakan, ada dua kesaksian dan fakta persidangan yang muncul di pengadilan Tipikor. Pertama, kesaksian yang menyebutkan para pejabat Itwasum Polri menerima aliran dana Simulator SIM. Kedua, kesaksian yang menyebutkan adanya 4 dus yang berisi uang yang diduga berjumlah Rp 4 miliar yang diberikan kepada lima anggota Komisi III DPR.
Dalam hal ini Neta mengharapkan KPK bekerja cepat untuk menahan dan mencekal orang-orang yang disebutkan terlibat menerima aliran dana tersebut hingga mereka tidak menghilangkan barang bukti.
“Tentu sangat tidak adil jika, kepada Sutan Batugana dan Tri Yulianto, KPK begitu cepat bertindak mencegah mereka. Dan sangat tidak adil, jika KPK bekerja cepat memeriksa dan menyita mobil dari artis-artis yang menerima aliran dana kasus Sapi Impor atau dalam Kasus Wawan. Sementara orang-orang yang menerima aliran dana Simulator SIM dibiarkan enak-enakan melenggang,” pungkasnya.
di tulis oleh: SeringBuka
■ Moderator : Sering Buka | Semua Bisa Menulis Apa Saja

No comments:
Post a Comment
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi seringbuka.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
seringbuka.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.