Uang besar dalam adegan kecil Sastra
Denny JA memiliki uang, ide dan cita-cita. Ia salah satu tokoh yang paling berwarna-warni dalam kehidupan politik dan sastra Indonesia masa kini.
Denny Januar Ali nama lengkapnya. Ia pendiri lembaga riset kebijakan dan opini publik pertama dan paling berpengaruh di Indonesia. Rekornya: memenangkan tiga pemilu pemilihan presiden Indonesia berturut-turut. Media di Indonesia menjulukinya sebagai "kingmaker". Ini sebuah gelar yang Denny JA sendiri biasa saja menerimanya.
Pada bulan Juni 2014, "Time Magazine" menobatkan Denny JA satu dari tiga puluh tokoh paling berpengaruh di Internet level dunia. Ia disejajarkan dengan tokoh Politik dunia, pop dan selebriti Youtube seperti Barack Obama, Taylor Swift atau PewDiePie.
Sebelumnya, Twitter Inc memilihnya sebagai Golden Tweet 2014 no 2 di dunia. Tweetnya soal kampanye capres Indonesia Joko Widodo diretweet di atas sejuta kali. Jumlah retweet akun twitternya hanya setingkat dibawah retweet dari selebriti dunia Ellen DeGeneres bersama artis oscar.
Denny JA juga memiliki restoran selebriti, "Bunga Rampai" di daerah paling mahal di ibukota Indonesia, Menteng, Jakarta. Dan kini ia terjun ke dunia sastra dan aktivisme sosial.
Denny JA belajar di Amerika Serikat tahun sembilan puluhan. Ia mendapatkan gelar doktor pada tahun 2001 di Ohio State University. Ketika ia kembali ke tanah airnya, ia termasuk dari sangat sedikit orang Indonesia yang menguasai metode survei modern untuk membaca opini publik. Ia juga beruntung, karena jika diktator Suharto tidak jatuh, ia tak bisa mendaya-gunakan survei opini publik yang hanya relevan untuk negara demokrasi.
Di tahun 2001 di Indonesia diberlakukan otonomi daerah. Kekuasaan tidak lagi terpusat tapi didesentralisasi kepada daerah. Kepala daerahpun kemudian dipilih secara langsung. Ratusan kepala daerah membutuhkan jasa ahli survei dan konsultan politik seperti Denny JA. Dengan inovasi bisnis dan kemampuan akademiknya, banjir pilkada langsung itu membuat Denny JA kaya raya.
Ia tinggal di sebuah rumah di daerah mewah Pondok Indah, Jakarta, yang hanya ditempatinya di hari kerja. Dua anaknya sekolah di Jakarta International School yang termasuk sekolah termahal di Jakarta. Di akhir minggu ia tinggal di rumah mewahnya yang lain di darah utama kelapa Gading.
Sebuah patronase?
Berbeda dengan umumnya orang kaya Indonesia lain, Denny JA mulai terlibat beberapa tahun yang lalu untuk aneka proyek sosial,sastra dan intelektual. Alasannya adalah filosofi, katanya dalam sebuah wawancara dengan koran ini. Ia tak ingin mati hanya dikenang sebagai pengusaha. Ia ingin meninggalkan legacy yang lebih besar.
Pada tahun 2011 ia mendirikan Yayasan Abad Demokrasi ("A Century of Democracy"), yang ikut mempopulerkan kultur demokrasi di Indonesia. Termasuk di sana ikut mengedepankan pemahaman Islam di Indonesia yang sejalan dengan demokrasi.
Setahun kemudian ia mendirikan Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi, yang bertujuan untuk mempromosikan, melalui aneka karya seni, gagasan terbentuknya kultur Indonesia tanpa diskriminasi. Semua warga negara Indonesia harus mendapatkan perlindungan hukum dan diperlakukan sederajat, terlepas dari identitas agama, etnis, seksual dan lainnya.
Di tahun 2012, Denny JA menuangkan gagasan Indonesia Tanpa Diskriminasi ke dalam sebuah buku puisi esai "Atas Nama Cinta." Ia mengklaim bukan penyair namun menggunakan medium puisi untuk membuat gagasan sosialnya menyentuh hati. Subjudul di buku itu tertulis: "Masalah diskriminasi dalam kisah cinta".
Melalui buku itu, ia memperkenalkan bentuk puisi yang tak lazim, yang disebutnya "Puisi Esai." Label ini merujuk kepada puisi panjang yang memadukan keindahan puisi dan isu sosial, dengan adegan yang berbabak dan catatan kaki sebagai unsur sentralnya. Puisi esai disebutnya menggabungkan fiksi (puisi) dan fakta (esai, catatan kaki).
Denny JA membiayai kompetisi menulis puisi esai agar format baru puisi itu dikenal meluas. Ia membiayai pembuatan aneka film pendek dengan sutradara kenamaan mengenai kisah di puisi esainya. Ia juga membiayai Jurnal Sajak yang punya rubrik puisi esai.
Ia menjelama menjadi patron bagi sebuah komunitas sastra dan aktivisme sosial.
Semua koleksi puisi dalam buku Atas Nama Cinta mengungkapkan kisah diskriminasi di Indonesia; mulai dari kisah diskriminasi minoritas agama, sampai pada kisah cinta sesama jenis. Justru format puisi dan seni yang bisa membuat isu sensitif itu lebih mudah menyebar ke masyarakat.
Misalnya kisah asmara seorang anak muda dari paham agama mayoritas di Indonesia: Sunni, yang konservatif. Sedangkan kekasihnya seorang Ahmadiyah, penganut paham minoritas yang sering mendapatkan perlakuan kekerasan. Sungguhpun ini kisah yang rawan, namun karena berbentuk seni ia bisa menjadi subjek kompetisi sastra di sekolah menengah dan tinggi di Banten . Padahal Banten itu adalah propinsi tempat terjadinya kekerasan atas Ahmadiyah. Apalagi kekerasan itu memakan korban manusia.
Ikhtiar Denny JA tak jarang menjadi kontroversial. Di awal 2014, team delapan, terdiri dari banyak sarjana sastra terkenal dan penulis menerbitkan buku berjudul, "33 tokoh paling berpengaruh dalam Sastra Indonesia." Termasuk dalam 33 tokoh itu adalah Denny JA, yang dianggap membawa genre baru puisi esai. Padahal Denny JA baru dua tahun yang lalu menulis buku puisi.
Buku ini segera memicu menjadi heboh sastra Indonesia, yang mungkin terbesar dalam dua puluh tahun terakhir. Beberapa penulis dan yang mengaku "aktivis sastra" menuntut agar pemerintah mencabut peredaran buku 33 tokoh sastra. Mereka menganggap buku ini berbahaya bagi generasi muda karena memalsukan sejarah.
Namun tuntuan aktivis itu gagal. Hiruk pikuk itu justru melambungkan Denny JA sendiri.
Bukan Penyair?
Hari ini ketika saya tanya ambisinya di dunia sastra, Denny JA menekankan bahwa ia tidak melihat dirinya sebagai seorang penyair profesional. Ia juga tak pernah bercita-cita menjadi penyair. Ia menulis "Puisi Esai" lebih karena itu medium seni yang dirasakannya paling pas untuk menjangkau orang banyak. Bukan puisi esainya, tapi gagasan dalam puisi esai itu, soal toleransi dan tanpa diskriminasi itu, yang penting.
Dengan dana yang ia punyai, ia berkembang bebas menjadi patron dan filantropis yang membiayai sendiri semua kegiatan, ambisi dan mimpinya.
Sehari setelah wawancara, Denny JA mengirimkan pesan instant kepada saya, soal versi e-book nya "Puisi Esai." Buku pusi esainya, baik versi Inggris atau Jerman, “Fang Yin’s Handkerchief, menjadi best seller no 1 di Amazon, com, toko buku online terbesar di dunia, di bulan Juli 2015.
(Diterjemahkan bebas dari Koran Jerman, Frankfurter Allgemeine, 13 Agustus 2015 Link: http://www.faz.net/aktuell/feuilleton/buecher/themen/indonesiens-umstrittenster-autor-denny-ja-13737512.html)
(Diterjemahkan oleh Mahesa Airlangga)
Kiriman: Nalis Yustiana
Kiriman: Nalis Yustiana

No comments:
Post a Comment
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi seringbuka.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
seringbuka.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.