![]() | |
| Foto: Istimewa/.net. |
Belum habis kabar malang dari tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia, Eriwiana dan Sehatul Alfiah pasca penyiksaan yang dilakukan majikan masing-masing di negaranya. Publik kembali dikejutkan oleh kabar duka dari meninggalnya Khotijah binti Hosen di Arab Saudi.
Khotijah meninggal dunia pada Selasa, 14 Januari 2014 lalu, sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Wanita malang itu sempat dilarikan ke rumah sakit, namun ketika ditemukan, ia dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa di Tarhil, Senin malam lalu.
"Masalah tenaga kerja di Tarhil Saudi, kami dapat kabar telah meminggal Khotijah binti Hosen. mereka di Tarhil sudah 6 bulan. Mohon bantuan desakan kepada pemerintah agar jenazah beliau bisa dipulangkan ke tanah air," kata Rieke di Gedung DPR, Senayan, Rabu (19/2).
Politikus PDIP, Rieke Diah juga mendesak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercepat pemulangan tenaga kerja Indonesia overstayer (TKIO) di Arab Saudi. Hal ini terkait dengan kabar meninggalnya Khotijah.
"Para TKIO terpaksa menggedor pintu dan jendela sekuriti untuk menarik perhatian agar si ibu segera dibawa ke rumah sakit. Butuh waktu 30 menit agar sekuriti datang, Pemerintah Saudi harus bertanggung jawab dengan menanggung biaya pemulangan karena aturan internasional” lanjut Rieke dalam siaran persnya yang di terima wartawan.
Aktivis Buruh Migrant Indonesia dari Migrant Institute, Nur Salim mengatakan mencuatnya kasus meninggalnya TKI di Arab merupakan bukti dari tidak seriusnya pemerintah RI dalam menjamin warga negaranya di luar negeri.
"Polemik masalah terhadap buruh migran Indonesia wanita yang menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi belum diselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Pemerintah pun belum mampu menjamin warga negaranya utk dapat perlindungan di negara orang" kata Nur Salim.
Lebih lanjut, selain masalah perlindungan keselamatan, Nur juga menyebut pemerintah belum berkomitmen dalam kesehatan TKI di Arab. "Kasus meninggalnya Khotijah adalah bukti keterlambatan medis yang diperoleh TKIO selama di Tarhil, serta bentuk nyata kelalaian pemerintah dalam memberikan pengawasan kesehatan para TKIO selama berada di dalam Tarhil Sumaysi Jeddah" tandasnya.
Nur juga menyesai langkah pemerintah yang dinilai lamban dalam wacana moratorium perjanjian tenaga kerja dengan pihak Arab. "Bahwa kita ketahui bersama akan rencana pemerintah berniat kembali membuka kesepakatan moratorium terhadap KSA, menunjukan bahwa pemerintah masih mengutamakan penempatan bukan pembenahan perlindungan terhadap BMI yg ada di KSA" ia melanjutkan.
Migrant Institute juga menggaris bawahi kejanggalan pada alasan kematian Khotijah. Untuk itu pihaknya mendesak pemerintah melakukan investigasi terkait penyebab kematian Khotijah. "sekiranya jenazah harus dilakukan proses autopsi di negara penempatan, sehingga pemerintah bisa memastikan sebab meninggalnya (Khotijah -red) dengan pasti, sehingga tidak memunculkan praduga keracunan makanan" tutupnya.
Menanggapi hal itu, ketua DPR Marzuki mengatakan DPR sudah berkomunikasi dengan parlemen Arab Saudi terkait TKI Overstay. "Pimpinan DPR telah menyurati parlemen Arab Saudi terkait TKI Indonesia di sana dan kita bersyukur dalam pemulangan TKI overstay cukup baik," ujar Marzuki.
"Arab siapkan 4 pesawat, Indonesia 2 pesawat untuk pemulangan. Sisa 1000 lebih TKI. Terkait ada yang meninggal kewajiban DPR untuk mendorong pemerintah melakukan hal itu. Saya kira usulan baik dan akan ditindaklanjuti," kata Marzuki di kantornya, Rabu (19/2).
di tulis oleh: Santo
■ Moderator : Sering Buka | Semua Bisa Menulis Apa Saja

No comments:
Post a Comment
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi seringbuka.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
seringbuka.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.